Malang, — Kemajuan teknologi digital membuat generasi muda semakin terhubung dengan berbagai sumber informasi kesehatan. Namun koneksi yang tinggi terhadap informasi ternyata tidak serta merta menjamin gaya hidup yang lebih sehat. Persoalan tersebut dibahas dalam guest lecture yang diselenggarakan Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang (UM) di GKB A20 UM pada 27 Agustus 2026.

Kegiatan yang diikuti 216 mahasiswa Kesehatan Masyarakat tersebut menghadirkan Dr. Passakorn Suanrueang, PhD, dari Departemen Health Education and Behavioral Sciences, Faculty of Public Health, Mahidol University, Thailand dengan topik “From Health Literacy to Healthy Action: Behavioral Strategies for Active and Sustainable Living.” Materi yang disampaikan mengajak mahasiswa melihat gaya hidup sehat dari perspektif kesehatan masyarakat, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital.

Dalam pemaparannya, Passakorn mengawali pembahasan dengan gambaran tantangan zaman sekarang, mulai dari membanjirnya informasi kesehatan, rutinitas yang minim gerak, tekanan kesehatan mental, kesenjangan digital, hingga misinformasi yang beredar luas di media sosial. Materi menyebutkan bahwa sekitar 80% remaja dan 31% orang dewasa di dunia belum memenuhi anjuran aktivitas fisik yang ditetapkan WHO pada 2024. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik merupakan persoalan kesehatan masyarakat, bukan sekadar urusan olahraga.

Salah satu gagasan utama yang dibahas adalah literasi kesehatan sebagai jembatan antara informasi dan tindakan. Berlandaskan kerangka Nutbeam (2000) dan Sørensen dkk (2012), literasi kesehatan mencakup empat kemampuan yaitu mengakses, memahami, menilai, dan menerapkan informasi, serta terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu functional, interactive, dan critical.

Pembahasan tersebut diperkuat dengan model COM-B (Michie dkk, 2011) yang menjelaskan bahwa perilaku sehat muncul ketika tiga syarat terpenuhi bersamaan, yaitu capability atau kemampuan fisik dan psikologis, opportunity atau kondisi yang mendukung, serta motivation atau dorongan untuk bertindak. Passakorn mengingatkan bahwa hambatan yang dihadapi seseorang untuk bergerak aktif, seperti keterbatasan waktu, biaya, kondisi fisik, minimnya ruang publik yang aman, dan tekanan psikologis, jarang bersifat individual semata.

Salah satu pesan penting dalam guest lecture tersebut adalah penegasan bahwa teknologi digital berperan sebagai enabler, bukan solusi tunggal. Passakorn menyoroti tiga kesenjangan penting yaitu kepemilikan perangkat tidak selalu berarti seseorang mampu memahami informasi kesehatan dengan baik, data pelacakan aktivitas tidak otomatis mengubah perilaku tanpa disertai makna dan dukungan, serta personalisasi layanan digital dapat memperlebar kesenjangan apabila mengabaikan bahasa, budaya, dan kemampuan penggunanya.

Passakorn memperkenalkan kerangka konseptual yang menghubungkan informasi kesehatan, literasi kesehatan, kesiapan perilaku, tindakan sehat, hingga kesejahteraan berkelanjutan, dengan inovasi digital sebagai faktor pendorong dan lingkungan yang mendukung sebagai prasyarat keberhasilan.

Pendekatan tersebut juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Kampus, keluarga, komunitas, dan sistem digital yang inklusif memiliki peran saling melengkapi dalam membangun ekosistem yang memungkinkan masyarakat menjalani gaya hidup aktif sekaligus terlindungi dari kesenjangan literasi digital.

Bagi mahasiswa Kesehatan Masyarakat, materi tersebut memberikan perspektif bahwa promosi kesehatan di era digital memerlukan pendekatan yang mengintegrasikan literasi kesehatan, ilmu perilaku, penataan lingkungan, dan teknologi yang berkeadilan. Pendekatan ini memperluas pemahaman bahwa intervensi kesehatan masyarakat perlu memastikan teknologi benar-benar menjangkau dan memberdayakan penggunanya.

Materi juga menekankan bahwa alat digital yang mendukung kesehatan perlu bersifat mudah diakses, mudah dipahami, dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata, serta relevan dengan budaya komunitas penggunanya.

Jika ditelaah lebih jauh, pembahasan dalam guest lecture ini relevan dengan beberapa target SDGs sekaligus. SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) tercermin dari fokus pada peningkatan aktivitas fisik dan pencegahan gangguan kesehatan akibat gaya hidup pasif. SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) tercermin dari penekanan pada literasi kesehatan sebagai bentuk edukasi masyarakat. Sementara itu SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) tercermin dari perhatian terhadap risiko kesenjangan digital yang dapat memperlebar ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan.

Guest lecture ini sekaligus memperkuat perspektif bahwa mempromosikan gaya hidup sehat di era digital tidak cukup hanya dengan menyediakan informasi atau teknologi. Diperlukan literasi kesehatan yang kuat, lingkungan yang mendukung, serta teknologi yang inklusif agar tindakan sehat dapat menjadi kebiasaan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Translate »