Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Malang sukses menyelenggarakan kegiatan Guest Lecture bertajuk “Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di Rumah Sakit”. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 21 Mei 2025 bersama mahasiswa offering A, B, dan C, serta pada 23 Mei 2025 bersama mahasiswa offering D, E, dan F, yang seluruhnya merupakan mahasiswa angkatan 2023. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran aplikatif mata kuliah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang bertujuan mendekatkan mahasiswa pada praktik nyata di lapangan, khususnya di fasilitas kesehatan.
Hadir sebagai narasumber utama yaitu Belisa Fitri Az Zahra Bachtiar, S.KM., yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris II Komite K3 di RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Provinsi Jawa Timur, rumah sakit rujukan terbesar di wilayah Jawa Timur bagian selatan. Dalam pemaparan yang interaktif dan kaya pengalaman, Mbak Bella sapaan akrab beliau menjelaskan secara komprehensif bagaimana Sistem Manajemen K3 diterapkan dalam skala rumah sakit yang kompleks.
Beliau membuka pemaparan dengan menjelaskan dasar hukum pelaksanaan SMK3, yang merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012. Mahasiswa diajak memahami bagaimana penyusunan listing sheet kegiatan hingga masuk ke register risiko, yang dikategorikan ke dalam risiko klinis dan non-klinis. Dalam praktiknya, kegiatan yang termasuk risiko klinis lebih menantang karena menyangkut keselamatan pasien dan tenaga kesehatan secara langsung. Prosesnya dimulai dari penulisan daftar kegiatan, menentukan tujuan, lokasi, hingga pemilik risiko, sebelum kemudian dinilai secara kuantitatif.
Metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) digunakan untuk mengukur kesiapan sistem pelayanan rumah sakit, sedangkan PCRA (Pre-Construction Risk Assessment) diterapkan untuk memastikan bangunan rumah sakit yang akan digunakan telah memenuhi standar keselamatan. Beliau juga menekankan bahwa dokumen pelaporan kecelakaan kerja di RSSA memiliki tingkat kerahasiaan tinggi dan diwajibkan ditulis tangan, bukan di ketik, sebagai bentuk perlindungan terhadap informasi tenaga kerja.
Acara berlangsung dengan antusiasme tinggi. Mahasiswa tak hanya mencatat teori, tetapi juga berdiskusi aktif tentang praktik K3, tantangan implementasinya di lapangan, serta bagaimana peran lulusan kesehatan masyarakat ke depan dalam memperkuat sistem manajemen keselamatan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Salah satu mahasiswa menyampaikan
“Materi yang disampaikan Kak Belisa sangat membuka wawasan kami. Ternyata sistem K3 di rumah sakit begitu terstruktur dan menyeluruh. Saya jadi lebih paham bahwa keselamatan kerja itu bukan sekadar APD, tapi sebuah sistem yang harus dibangun dengan manajemen risiko yang matang. Rasanya jadi makin semangat belajar K3, apalagi dari pengalaman nyata di rumah sakit sebesar RSSA.”
Menutup sesi, Belisa menyampaikan harapannya kepada para mahasiswa
“Saya berharap adik-adik mahasiswa tidak hanya memahami teori K3, tapi bisa menjadi pelaku perubahan di lapangan. Karena ketika kalian nanti bekerja di fasilitas kesehatan, tanggung jawab terhadap keselamatan tidak hanya menyangkut diri sendiri, tapi juga kolega kerja, pasien, bahkan keluarga mereka. Itulah mengapa SMK3 menjadi sistem yang harus dibudayakan, bukan sekadar dilaksanakan.”
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk sinergi antara dunia akademik dan dunia praktik pelayanan kesehatan. Di tengah kompleksitas tantangan tenaga kesehatan masa kini, pemahaman terhadap sistem K3 menjadi bagian penting dalam menjamin keselamatan kerja yang berkelanjutan.
Kegiatan ini juga mendukung capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:
- SDG 3: Good Health and Well-Being, melalui upaya peningkatan keselamatan di lingkungan pelayanan kesehatan,
- SDG 8: Decent Work and Economic Growth, dengan menciptakan lingkungan kerja yang aman dan layak bagi tenaga medis,
- SDG 4: Quality Education, dengan memberikan pendidikan bermutu yang kontekstual dan berbasis praktik lapangan.
Dengan kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga bekal nilai-nilai profesionalisme dan kesadaran terhadap pentingnya budaya keselamatan kerja di dunia kesehatan.





