Dalam upaya mendukung kesehatan dan perkembangan anak-anak melalui pemberian makanan pendamping ASI (MPASI), mahasiswa dan dosen dari Peminatan Gizi Universitas Negeri Malang (UM) berkolaborasi dengan ibu-ibu PKK Wonorejo untuk mengembangkan dan memproduksi Cookies Kelor sebagai salah satu pilihan MPASI bergizi. Program ini merupakan bagian dari upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2, 3, dan 4, yang fokus pada tanpa kelaparan, peningkatan kesehatan dan kesejahteraan, dan pendidikan berkualitas.

Cookies Kelor ini dikembangkan dengan bahan dasar daun kelor yang dikenal kaya akan nutrisi seperti vitamin A, zat besi, dan kalsium, yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Program ini tidak hanya bertujuan untuk menyediakan MPASI yang bergizi bagi anak-anak di Wonorejo, tetapi juga memberikan edukasi kepada ibu-ibu PKK tentang pentingnya gizi seimbang dalam masa tumbuh kembang anak.

Kegiatan ini diawali dengan sesi pelatihan yang dipimpin oleh dosen dan mahasiswa peminatan Gizi UM, di mana ibu-ibu PKK Wonorejo diajak untuk mempelajari cara pembuatan Cookies Kelor. Selama sesi tersebut, para peserta tidak hanya diajarkan tentang proses pembuatan cookies, tetapi juga tentang nilai-nilai gizi yang terkandung di dalamnya, serta bagaimana kelor dapat menjadi solusi alami untuk mengatasi masalah malnutrisi pada anak-anak.

Inisiatif ini sangat sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), yang bertujuan untuk mengakhiri segala bentuk kelaparan dan malnutrisi, terutama di kalangan anak-anak. Dengan memperkenalkan MPASI berbasis kelor, diharapkan dapat membantu mengurangi angka malnutrisi dan kekurangan gizi di daerah tersebut.

Selain itu, program ini juga mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), dengan menyediakan alternatif MPASI yang tidak hanya bergizi tetapi juga mudah dibuat dan terjangkau bagi masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan anak-anak di Wonorejo dan sekitarnya, dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti daun kelor.

SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) juga mendapat perhatian dalam program ini, di mana kegiatan ini tidak hanya berfokus pada produksi makanan bergizi, tetapi juga pada edukasi gizi bagi para ibu. Dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, ibu-ibu PKK diharapkan dapat meneruskan praktik baik ini dalam kehidupan sehari-hari, memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan asupan gizi yang optimal untuk tumbuh dan berkembang.

Salah satu peserta dari ibu-ibu PKK Wonorejo mengungkapkan, “Kami sangat bersyukur bisa belajar langsung tentang cara membuat MPASI yang bergizi dan praktis. Dengan bahan yang mudah didapat, kami bisa terus menyediakan makanan sehat untuk anak-anak kami.”

Kolaborasi antara akademisi dan masyarakat ini diharapkan dapat menjadi model bagi program-program serupa di daerah lain, di mana pemanfaatan sumber daya lokal dan peningkatan edukasi gizi dapat berjalan beriringan untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan kuat.

Translate »