Kesehatan mental orang tua dari anak penyandang penyakit langka merupakan isu yang kerap luput dari perhatian publik, padahal dampaknya sangat besar terhadap kualitas hidup keluarga. Dalam keseharian, orang tua harus menghadapi tantangan fisik, emosional, dan sosial yang berat. Kondisi ini sering kali menimbulkan stres berkepanjangan, kecemasan, depresi, hingga kelelahan kronis.
Penelitian menunjukkan lebih dari 50% orang tua anak dengan penyakit langka mengalami tingkat stres yang tinggi. Sebagian besar juga kesulitan mencari dukungan atau sumber daya yang memadai untuk membantu mereka dalam mengelola perawatan. Situasi ini menegaskan betapa pentingnya dukungan komprehensif, tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi orang tua sebagai caregiver utama.
Menanggapi kondisi tersebut, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (FIK UM) berupaya melakukan penelitian dengan melibatkan komunitas orang tua anak istimewa. Melalui instrumen Caregiver Stress Self-Assessment (CSA), tim peneliti mengidentifikasi tingkat stres sekaligus kondisi kesehatan mental orang tua dalam proses pengasuhan.
Sebagai bagian dari intervensi, kegiatan penelitian ini menghadirkan pijat release stress, observasi, dan wawancara. Diharapkan, aktivitas ini tidak hanya menjadi media pengumpulan data, tetapi juga memberikan manfaat langsung berupa pelepasan ketegangan bagi para orang tua.
Program ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan). Lebih jauh, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan dan praktisi kesehatan untuk merancang program yang lebih efektif dalam mendampingi keluarga dengan anak penyandang penyakit langka di Indonesia.