Malang, 25 Oktober 2025 – Tim peneliti Departemen IKM FIK Universitas Negeri Malang (UM) berhasil mengembangkan inovasi baru berupa Safelab, sebuah instrumen digital berbasis Microsoft Excel yang dirancang untuk membantu proses Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR) di laboratorium. Inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mengoptimalkan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan laboratorium kampus.
Laboratorium merupakan sarana penting dalam kegiatan pembelajaran dan penelitian di perguruan tinggi. Namun, kegiatan praktikum sering kali melibatkan penggunaan alat dan bahan berpotensi bahaya yang dapat menimbulkan risiko kecelakaan kerja apabila tidak dikelola dengan baik. Kasus kecelakaan laboratorium yang pernah terjadi menunjukkan bahwa penerapan sistem K3 yang baik sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif.
Menanggapi kebutuhan tersebut, tim peneliti IKM UM dalam program inovasi tendik mengembangkan Safelab sebagai solusi praktis untuk membantu pengelola laboratorium dalam mengenali, menilai, dan mengendalikan risiko bahaya di lingkungan kerja. Pengembangan Safelab dilakukan melalui pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation).
“Selama ini penyusunan IBPR di laboratorium membutuhkan waktu lama dan cukup kompleks bagi pengguna yang belum memahami konsep K3. Safelab hadir sebagai inovasi untuk menyederhanakan proses tersebut sekaligus meningkatkan efektivitas penerapan K3,” ujar Yasinda Ketua Tim Peneliti Safelab.
Instrumen Safelab dilengkapi dengan berbagai fitur unggulan, seperti formulir pengukuran lingkungan kerja, formulir identifikasi bahaya dan potensi risiko (IBPR), serta formulir monitoring risiko yang saling terintegrasi. Selain itu, terdapat fitur Search Engine untuk memudahkan pengguna mencari informasi bahaya dan risiko di laboratorium berdasarkan kata kunci tertentu.
Berdasarkan hasil uji validasi dari ahli materi dan ahli media, Safelab memperoleh nilai kelayakan rata-rata di atas 80%, dengan rincian 86% dari ahli materi dan 91% dari ahli media. Sementara itu, hasil uji coba kelayakan bersama 10 laboran Universitas Negeri Malang menunjukkan skor 83%, yang dikategorikan “sangat layak”.
Sebagai bagian dari tahap implementasi, tim peneliti juga telah melakukan uji coba dan pengukuran awal di Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) dan Laboratorium Terpadu Universitas Negeri Malang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Safelab dapat digunakan dengan mudah dan efektif untuk membantu proses identifikasi bahaya serta pemantauan risiko di lapangan.
Selain melewati tahapan validasi ahli, Safelab juga telah diajukan dan divalidasi langsung oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Terpadu Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Hadi Nur. Beliau menegaskan bahwa inovasi ini merupakan terobosan awal bagi sistem K3 laboratorium di UM, dan berencana untuk mengintegrasikan Safelab ke dalam sistem laboratorium terpadu di bawah UPT Laboratorium Terpadu UM.
“Inovasi Safelab ini adalah langkah penting untuk memperkuat budaya keselamatan di lingkungan laboratorium Universitas Negeri Malang. Kami berkomitmen untuk mengintegrasikan sistem ini ke dalam jaringan laboratorium terpadu agar penerapan K3 menjadi lebih sistematis dan berkelanjutan,” ungkap Prof. Dr. Hadi Nur.
Dalam tahap evaluasi, tim peneliti juga menerima sejumlah masukan untuk pengembangan lanjutan, seperti penambahan database risiko, pembuatan panduan berbasis video, serta penyusunan form pelaporan kecelakaan kerja. Ke depan, tim berencana untuk mengembangkan Safelab ke versi berbasis website, sehingga lebih interaktif, efisien, dan mudah diakses oleh seluruh sivitas akademika UM. “Dengan adanya Safelab, diharapkan seluruh aktivitas di laboratorium dapat berjalan lebih aman, nyaman, dan produktif. Inovasi ini tidak hanya bermanfaat bagi Universitas Negeri Malang, tetapi juga berpotensi diterapkan di berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia,” tutup Yasinda Ketua Tim penelitian dan pengembangan.



