Malang — Tim Penelitian Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Universitas Negeri Malang (UM) melaksanakan uji coba media edukasi berbasis Augmented Reality bernama VIOLA (Verifikasi, Identifikasi, Observasi, Langkah Anti Kekerasan) di empat wilayah di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Blitar. Media ini dikembangkan sebagai bagian dari upaya preventif dalam menangani Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) melalui pemberdayaan kader perempuan di tingkat komunitas. Dengan pendekatan teknologi yang interaktif dan mudah diakses, VIOLA diharapkan mampu meningkatkan pemahaman kader dalam mengenali berbagai bentuk kekerasan serta memperkuat kemampuan mereka dalam melakukan deteksi dini dan pencegahan di lingkungan masing-masing.
Sebagai ujung tombak dalam menyuarakan isu-isu kesehatan dan sosial di masyarakat, kader pemberdayaan perempuan memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan. Melalui VIOLA, Tim Penelitian UM menyediakan sarana pembelajaran yang tidak hanya informatif tetapi juga aplikatif, guna memperkuat kapasitas kader dalam menjalankan tugasnya. Inisiatif ini menjadi bagian dari kontribusi nyata Universitas Negeri Malang dalam mendukung edukasi berbasis teknologi serta memperkuat peran masyarakat dalam mencegah dan menangani kekerasan berbasis gender, khususnya di ranah domestik.
Pelatihan uji coba dilaksanakan sebanyak empat kali di empat wilayah berbeda di Jawa Timur. Kegiatan pertama diadakan di Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan pada Jumat, 25 Juli 2025. Kegiatan kedua dilaksanakan di Kota Malang pada 29 Juli 2025, bertempat di Kecamatan Lowokwaru. Selanjutnya, uji coba ketiga dilaksanakan di Balai Desa Tlogo, Kabupaten Blitar, pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Kegiatan terakhir berlangsung di Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 14 Oktober 2025, bertempat di Posyandu Desa Kraton. Setiap pelaksanaan kegiatan turut dihadiri oleh perwakilan Puskesmas, Ketua PKK, serta para kader kesehatan setempat.
Kegiatan uji coba diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Tim Pengabdian, Ibu Nohan Arum Romadlona, S.K.M., M.K.M. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kader memiliki peran penting dalam berbagai situasi, termasuk ketika terjadi kekerasan di lingkungan sekitar. “Kader berperan sebagai first responder atau perantara awal yang dapat memberikan pertolongan pertama secara psikologis kepada korban kekerasan dalam rumah tangga. Mereka juga dapat mendampingi korban untuk memperoleh layanan lebih lanjut, seperti ke puskesmas atau melaporkan kejadian kepada instansi pemberdayaan perempuan,” ujarnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi bertema “Mengenali Istilah, Bentuk Kekerasan, dan Dampak Kekerasan” oleh Ibu Tika Dwi Tama, S.K.M., M.Epid., serta materi “Peran Penting Kader Kesehatan: Pencegahan, Identifikasi, Penanganan, dan Pencarian Layanan” oleh Ibu Nohan Arum Romadlona, M.K.M. Selain itu, Ibu Rany Ekawati, S.K.M., M.P.H. dan Ibu Paramytha Magdalena Soekarno Putri, S.K.M., M.Kes. juga turut memberikan materi secara bergantian di setiap wilayah untuk memperkaya pemahaman peserta. Seluruh materi disampaikan secara interaktif melalui kuis mitos dan fakta seputar kekerasan dalam rumah tangga, serta diskusi studi kasus sebagai simulasi penanganan kekerasan di lingkungan masyarakat.
Sebagai inti kegiatan, peserta berkesempatan mencoba langsung aplikasi VIOLA berbasis Augmented Reality yang menampilkan bentuk dan jenis kekerasan secara visual melalui perangkat gawai masing-masing. Aplikasi ini bekerja dengan cara memindai image target yang mewakili jenis kekerasan tertentu, kemudian menampilkan visual augmented reality secara otomatis. Peserta tampak antusias dan dengan mudah memahami cara penggunaan aplikasi tersebut. Melalui uji coba ini, Tim Penelitian Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang berharap agar VIOLA dapat menjadi inovasi berkelanjutan dalam memperkuat kapasitas kader dan masyarakat dalam mencegah serta menanggulangi kekerasan berbasis gender, khususnya kekerasan dalam rumah tangga. Ke depannya, media edukasi berbasis teknologi ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga wujud kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, serta bebas dari kekerasan.





