Malang, November 2025 — Kesehatan mental semakin menjadi isu yang mendesak untuk diperhatikan di kalangan mahasiswa di Indonesia. Dinamika kehidupan kampus menuntut banyak mahasiswa untuk aktif, kritis, berprestasi, menciptakan relasi sosial, serta mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Tekanan akademik, perubahan lingkungan, masalh pribadi seperti masalah ekonomi, keluarga, hingga krisis jati diri menjadikan mahasiswa sebagai kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental, namun  kesehatan mental menjadi aspek yang seringkali terabaikan.

Melihat urgensi permasalahan ini, tim peneliti dari Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (IKM FIK UM) tengah melakukan sebuah studi yang berjudul “Need and Demand Layanan Kesehatan Mental Mahasiswa Di Indonesia Sebagai Upaya Membangun Sistem Dukungan Kesehatan Mental Di Lingkungan Kampus.”

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengidentifikasi kebutuhan, menganalisis permintaan, serta mengevaluasi faktor penghambat dan pendukung akses layanan kesehatan mental mahasiswa yang nantinya digunakan untuk membuat rekomendasi bagi pengembangan sistem kesehatan mental yang efektif di lingkungan kampus. Metode Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan survei kuantitatif yang disebarkan secara daring melalui penyebaran kuesioner online dan disebarluaskan menggunakan berbagai seperti Instagram dan WhatsApp yang diisi oleh mahasiswa aktif dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta secara sukarela dimana sebelum mengisi kuesioner responden akan mengisi informed consent terlebih dahulu. Pengambilan data ini dilaksanakan dalam periode bulan Agustus – Oktober 2025.

Dari pengambilan data dalam rentang waktu 3 bulan, didapatkan 442 mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia baik dari wilayah timur maupun barat, mengakses dan  mengisi kuesioner ini. 

“Kami ingin mengetahui secara lebih dalam bagaimana mahasiswa di seluruh Indonesia memandang layanan kesehatan mental, apakah mereka merasa membutuhkannya, apa saja hambatan yang mereka hadapi untuk mengaksesnya, dan bentuk layanan seperti apa yang mereka harapkan,” ungkap Ketua Tim Peneliti dari Fakultas Ilmu Keolahragaan UM. Karena kita punya peran dalam membangun sistem dukungan yang lebih baik, mahasiswa membutuhkan ruang aman untuk bercerita dan dukungan emosional yang berkelanjutan, bukan hanya layanan konseling yang bersifat reaktif, tapi kampus perlu hadir sebagai tempat yang peduli dan siap mendengarkan” Tambah Anggota Tim Penelitian dari Fakultas Ilmu Keolahragaan lainnya.

Translate »