Malang, 12 Juni 2025 – Masa remaja adalah masa krusial dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Masa remaja tentu menjadi fase penting dalam kehidupan seseorang, di mana kebutuhan gizi yang seimbang sangat menentukan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta pembentukan kebiasaan hidup sehat jangka panjang. Sayangnya, kesadaran akan pentingnya gizi pada remaja masih tergolong rendah. Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang menginisiasi kegiatan “Sosialisasi dan Edukasi Gizi Seimbang Dengan Media Pop-Up Book SI CERDAS dan Skrining Kesehatan” yang bertujuan meningkatkan literasi gizi di kalangan remaja.

Kegiatan ini dilaksanakan di SMPN 4 Malang dan diikuti oleh puluhan siswa kelas VII dan VIII. rangkaian acara diawali dengan skrining kesehatan sederhana meliputi tinggi dan berat badan. data tersebut dicatat dalam kartu pemeriksaan individual yang nantinya menjadi dasar untuk menghitung status gizi siswa melalui Indeks Massa Tubuh (IMT).

Selanjutnya, siswa diajak mengikuti sesi edukasi gizi seimbang yang interaktif dan komunikatif. Dipandu oleh narasumber dari kalangan dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, para siswa tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi diajak untuk aktif menghitung sendiri nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) mereka menggunakan hasil pengukuran sebelumnya. Narasumber membimbing siswa untuk menafsirkan hasil tersebut apakah tergolong gizi kurang, normal, atau gizi lebih serta menjelaskan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencapai status gizi ideal.

Untuk mendukung pemahaman konsep gizi secara menyenangkan, sesi edukasi dilengkapi dengan media utama yaitu Pop-Up Book SI CERDAS (Siasati Individu Cegah Efek Rusak Dini Akibat Salah Gizi) yang dirancang secara visual menarik dan mudah dipahami. Media ini membantu siswa mengingat konsep makronutrien dan mikronutrien secara lebih efektif. Respon siswa sangat positif; banyak yang mengaku lebih tertarik dan mudah memahami materi dibandingkan metode konvensional.

Kemeriahan berlanjut dengan sesi permainan edukatif “Tebak Clue Makro-mikro nutrien”, yang menguji pengetahuan siswa secara menyenangkan. Permainan ini mendorong kerja sama tim, ketangkasan berpikir, dan memantapkan pemahaman yang telah diperoleh sebelumnya. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang memberi ruang bagi siswa untuk menyampaikan rasa ingin tahunya langsung kepada narasumber.

Ketua tim pengabdian, Farah Paramitha, S.Gz., M.P.H., menyatakan bahwa kegiatan ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori gizi semata, namun juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran. “Melalui pendekatan partisipatif dan media yang kreatif, kami ingin menumbuhkan kesadaran sejak dini akan pentingnya pola makan seimbang. Semoga kegiatan ini menjadi benih kecil yang tumbuh menjadi kebiasaan sehat di masa depan,” tuturnya.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak langsung terhadap pemahaman gizi di kalangan remaja, tetapi juga sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan kesadaran tentang gizi seimbang, poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui skrining kesehatan dan edukasi preventif, serta poin 4 (Pendidikan Berkualitas) karena mengintegrasikan pendekatan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini mencerminkan semangat poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat dalam mendorong perubahan positif secara berkelanjutan.

Translate »