Batu – Pada Jumat, 11 Juli 2025, ruang kelas SDN Mojorejo 2 menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Workshop Guru bertema Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual serta Perundungan (Bullying). Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang terlaksana dengan dukungan dana hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2025.

Workshop diselenggarakan oleh tim Indigenous Interactive Children Book (IICB) dari Universitas Negeri Malang dan diikuti dengan antusias oleh para guru SDN Mojorejo 2. Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi presensi dan pre test untuk mengukur pemahaman awal peserta mengenai isu kekerasan seksual dan perundungan di lingkungan sekolah dasar.

Pembukaan disampaikan secara kondisional oleh ketua tim IICB, Ibu Paramytha Magdalena Sukarno Putri, S.K.M., M.Kes., yang menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif di sekolah dalam mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual serta bullying. Sambutan juga disampaikan oleh pihak sekolah yang menyoroti pentingnya menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan ramah anak.

Pada sesi materi utama, Bapak Alfian Fawaidil Wafa, M.Pd. memaparkan edukasi regulasi berdasarkan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Materi ini membahas secara detail definisi kekerasan, jenis-jenis perundungan (fisik, verbal, psikis, sosial, hingga perundungan di dunia maya), serta langkah-langkah preventif yang dapat diterapkan oleh guru di sekolah.

Selain itu, para peserta diperkenalkan dengan Buku Panduan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual dan Perundungan (Bullying) yang disusun dalam empat seri. Buku ini memuat metode pengajaran berbasis aktivitas edukatif dan permainan, yang dirancang agar materi sensitif dapat dipahami anak-anak secara bertahap dan sesuai usia. Pentingnya komunikasi terbuka antara guru, siswa, dan orang tua juga menjadi sorotan utama dalam sesi ini.

Workshop berjalan interaktif, terutama saat sesi tanya jawab. Para guru aktif mengajukan pertanyaan praktis mengenai penanganan kasus perundungan di kelas, pendampingan bagi anak korban kekerasan seksual, hingga strategi pelibatan orang tua dalam upaya pencegahan. Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan dan forum group discussion (FGD), di mana peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk mendiskusikan studi kasus nyata, berbagi pengalaman, dan menyusun langkah strategis pencegahan di sekolah. Hasil diskusi dipresentasikan kembali dalam forum besar, memberi ruang bagi seluruh peserta untuk belajar bersama.

Pelaksanaan workshop ini juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui upaya mencegah kekerasan yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik anak, serta SDG 5: Kesetaraan Gender, memastikan akses universal terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk perencanaan keluarga, informasi, dan pendidikan 

Di penghujung acara, para guru menyampaikan apresiasi atas materi dan metode yang disampaikan. Mereka menilai workshop ini memberi wawasan baru sekaligus pedoman praktis yang dapat langsung diterapkan di sekolah. Kegiatan ini diakhiri dengan harapan bahwa SDN Mojorejo 2 dapat semakin siap menjadi sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak, serta bebas dari segala bentuk kekerasan dan perundungan.

Translate »